Text
Mengartikulasikan Pendidikan Nilai
PADA beberapa dasawarsa terakhir, terjadi kecenderungan baru di dunia yaitu tumbuhnya (kembali) kesadaran nilai. Kecenderungan ini terjadi secara global yang dapat digambarkan sebagai sebuah titik balik dalam peradaban manusia. Di mana-mana orang berbicara tentang nilai dan dalam banyak kesempatan tema-tema tentang nilai atau yang terkait dengan nilai dibahas. Bahkan untuk
bidang yang sebelumnya dianggap "bebas nilai" (value-free) sekalipun, kedudukan dan peran nilai makin banyak diangkat. Misalnya, orang sekarang hampir tidak pernah lagi berbicara tentang sains yang bebas nilai. Bahkan di kalangan saintis, dalam pengertian ilmu-ilmu alam, sekarang mulai ada rasa malu untuk berbicara tentang ilmu yang bebas nilai -sesuatu yang hingga tahun 1970-an masih sering dika
takan. Sekarang mereka hampir sepakat untuk menyatakan, “there is
no such thing the so-called "value-free science” (tidak ada yang disebut sains bebas nilai". Sebaliknya mereka berbicara tentang sains yang
bermuatan nilai (values-laden science), di titik manapun nilai-nilai melekat. Kalau bukan pada eksperimennya di laboratorium, maka nilai akan muncul pada saat keputusan untuk melakukan eksperimen itu,
memilih metode ini, dan apa lagi pada saat mengaplikasikan hasilhasil riset itu dalam teknologi. Riset dalam bidang eugenetika, misalnya, sejak awal sudah bergumul dengan persoalan nilai. Masuknya nilai-nilai memberikan moralitas pada riset ilmiah -sebuah isu yang praktis diabaikan di bawah panji sekularisasi sains.
Hal yang sama terjadi pada ilmu-ilmu sosial yang memang karakternya sangat kental bermuatan nilai yang melekat pada budaya. Jarang sekali sekarang ilmuwan sosial yang mengklaim bahwa bidang ilmu atau kajiannya bebas nilai atau bebas budaya. Dalam psikologi, misalnya, sulit menemukan lagi ahli pengukuran yang berani
| NF00887 | 370.114 ROH m | Ruang Koleksi 300-399 (300-an) | Available |
No other version available