KEUTAMAAN IBU
DALAM PANDANGAN ISLAM
(Renungan Hari Ibu)
Oleh : Ateng Chozany Miftah
(Ketua Komite SMP Negeri 10 Semarang)
Setiap bulan Desember, tepatnya setiap tanggal 22 Desember, kita bangsa Indonesia selalu memperingati Hari Ibu. Hal ini dilakukan, karena tanggal 22 Desember telah ditetapkan oleh Pemerintan sebagai Hari Ibu.
Ditetapkannya tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu, diambil dari peristiwa penting pergerakan kaum perempuan Indonesia yang mengadakan Kongres Perempuan pertama pada tanggal 22 Desember 1928 di Yogyakarta.
Terselenggraranya Kongres Perempuan tersebut, menunjukkan bahwa kaum perempuan/Ibu Indonesia mempunyai peran penting dalam perjuangan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Keberperanan perempuan/Ibu dalam tata kehidupan berbangsa dan bernegara, menyadarkan kita bahwa secara umum kaum perempuan mempunyai akses dan kesempatan yang sama dengan kaum laki-laki untuk ikut berperan dalam membangun tata kehidupan.
Oleh karena itu, sangat tepat dan penting kalau setiap tahun kita selenggarakan Peringatan Hari Ibu, agar kita tetap mengingat dan tidak melupakan betapa besar dan pentingnya kedudukan Ibu dalam kehidupan.
Bagi kaum Ibu sendiri, peringatan Hari Ibu tersebut sangat penting. Hal ini agar kaum Ibu selalu ingat dan tidak melupakan kodrat, fungsi serta peran pentingnya dalam kehidupan.
Guna ikut mewarnai peringatan Hari Ibu kali ini, penulis mengajak para pembaca untuk merenungkan kembali tentang bagaimana (1).Peran Ibu Dalam Kehidupan, (2).Kedudukan dan Keutamaan Ibu Dalam Pandangan Islam, dan (3). Wujud Pengakuan Atas Keutamaan Ibu Dalam Pandangan Islam.
I.PERAN IBU DALAM KEHIDUPAN
Ibu adalah sosok yang punya peran penting dalam kehidupan. Baik dalam kehidupan Rumah Tangga demikian pula dalam kehidupan bermasyarakat.
Berikut beberapa diantara peran penting seorang Ibu dalam kehidupan.
1.Peran Penting Dalam Kehidupan Rumah Tangga
Tentang peran penting seorang Ibu dalam kehidupan Rumah Tangga, kiranya bisa kita sebutkan beberapa diantaranya.
a.Selalu dibutuhkan keberadaannya.
Fakta menunjukkan bahwa seorang Ibu merupakan sosok yang selalu dibutuhkan keberadaannya dalam kehidupan Rumah Tangga. Ketiadaan sosok Ibu dalam kehidupan Rumah Tangga selalu dirasa sebagai sesuatu yang kurang.
b. Sebagai pendamping Suami
Seorang Ibu merupakan pendamping utama dari suaminya. Kehidupan seorang suami (bapak-bapak) akan merasa hampa dan tidak sempurna ketika dalam menjalani kehidupannya tanpa didampingi oleh istrinya (Ibu).
c.Pendidik pertama dan utama anak-anaknya.
Peran penting lainya dari seorang Ibu, adalah sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya. Secara faktual, dalam kehidupan keluarga, memang seorang Ibulah yang menjadi pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya. Dia mendidik anak sejak sang anak dilahirkan, dalam buaiannya, sampai sang anak dewasa.
d.Cermin baik dan buruknya sebuah kehidupan keluarga.
Demikian pula seorang Ibu sering dijadikan cermin dari baik dan buruknya sebuah keluarga. Dalam fakta kehidupan bemasyarakat, perilaku seorang Ibu dalam sebuah keluarga sering menjadi fokus sorotan terhadap baik atau buruknya kehidupan sebuah keluarga.
2.Peran Ibu Dalam Kehidupan Bermasyarakat
Selain mempunyai peran penting dalam kehidupan keluarga, seorang Ibu punya peran penting pula dalam ikut membangun serta mewarnai tata kehidupan bermasyarakat.
Fakta menunjukkan, tanpa keikutsertaan dan peran Ibu, kehidupan bermasyarakat akan dirasa tidak lengkap.
Demikianlah betapa pentingnya sosok seorang Ibu dalam membangun kehidupan. Baik dalam kehidupan Rumah Tangga demikian pula dalam kehidupan bermasyarakat.
II. KEDUDUKAN DAN KEUTAMAAN IBU DALAM PANDANGAN ISLAM
Dalam pandangan Islam sosok Ibu mempunyai kedudukan yang tinggi dan penting serta penuh dengan keutamaan.
Ada beberapa kedudukan, keutamaan serta peran penting seorang Ibu dalam pandangan Islam.
1.Sebagai Pelahir Keturunan/Generasi
Satu fungsi dan peran penting seorang Ibu bagi kehidupan yang sangat mulia yang harus dihargai dan kita hormati sebagaimana diungkap dalam Al-Qur’an, adalah sebagai pelahir generasi/keturunan.
وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ اُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَلُهُ فِي عَامَيْنِ اَنْ اَشْكُرْلِى وَلِوَالِدَيْكَ
“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu”. (QS:Luqman:14).
Demikianlah, dengan penuh perjuangan, kesabaran, dan ketulusannya, seorang Ibu mampu menjalankan peran pentingnya untuk mengandung dan melahirkan keturunan (anak).
Lahirnya keturunan dari rahim seorang Ibu, sangat berperan dan sangat dibutuhkan. Hal ini dalam rangka menjaga tetap berlangsungnya proses regenerasi dan kesinambungan kehidupan ummat manusia di muka bumi ini.
Tanpa adanya kebersediaan dan ketulusan seorang Ibu untuk mengandung, tidak mungkin akan lahir keturunan atau generasi penerus dalam kehidupan manusia. Apabila hal tersebut terus berjalan sepanjang kehidupan, maka akan punahlah kehidupan manusia di muka bumi ini.
2.Sangat Dimuliakan Oleh Allaah
Allaah SWT sangat menghargai dan memuliakan peran Ibu bagi tata kehidupan manusia. Hal ini tersirat dan tercermin dalam disatukannya perintah Allaah SWT untuk menyembah Allaah dengan perintah untuk berbuat baik kepada kedua orang tua (termasuk Ibu).
وَاعْبُدُوا اللهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئَ وَبِا لْوَلِدَيْنِ اِحْسَانَا
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa”. (QS:An-Nisaa:36).
Maha Benar dan Maha Agung Allah, yang telah memerintahkan manusia untuk menghargai dan berbuat baik kepada Ibu dan bapak sang penerus generasi.
III. WUJUD PENGAKUAN ATAS KEUTAMAAN IBU DALAM AJARAN ISLAM.
Sebagai bentuk pengakuan atas keutamaan Ibu, Islam memberikan hak-hak khusus kepada seorang Ibu dalam kehidupan, seperti antara lain:
1.Wajib Dinafkahi Oleh Suaminya
Atas peran pentingnya seorang Ibu dalam mendampingi suami, mengandung, melahirkan, membesarkan, dan mendididik keturunan (anak), maka seorang Ibu wajib dinafkahi oleh suaminya secara patut.
وَالْوَالِدَاتِ يُرْضِعْنَ اَوْلَدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ اَرَدَ اَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةُ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقِهُنَّ وَكِسْواتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf”. (QS:Al-Baqarah:233).
2.Anak Harus Berbakti Kepadanya
Karena kedudukan mulia sebagai pelahir generasi yang dengan penuh ketulusan, kesabaran dan susah payah mengandung, melahirkan serta membesarkan anak, maka Islam mewajibkan seorang anak untuk berbakti kepada Ibunya. Hal ini tersirat dalam sebuah hadits berikut ini:
جَاءَ رَجُلٌ اِلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ مَنْ اَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: اُمُّكَ, قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ اُمُّكَ , قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ اُمُّكَ , قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ اَبُوكَ.
“Seseorang datang kepada Rasulullah dan berkata: “Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?” Rasulullah menjawab:“Ibumu”. Orang tersebut kembali bertanya: “Kemudian siapa lagi?” Rasulullaha menjawab: “Ibumu”. Orang tersebut kembali bertanya: “Kemudian siapa lagi?”, Rasulullaah menjawab: “Ibumu”. Orang tersebut kembali bertanya: “Kemudian siapa lagi?. Rasulullaah menjawab: “Ayahmu”. (HR.Bukhari 5971).
Dalam hadits ini, Rasulullah menyebut “Ibumu” sebanyak tiga kali berulang, baru kemudian menyebut “ayahmu”. Demikianlah Islam sangat menghargai peran ketulusan dan kejerihpayahan seorang Ibu dalam mengemban tugas sebagai pelahir dan perawat serta pendidik keturunan.
3.Haram dan Dosa Besar Mendurhakainya
Masih berkaitan dengan pemuliaan dan penghargaan Islam terhadap peran Ibu bagi kehidupan, Islam mengharamkan seorang anak berbuat durhaka kepada Ibunya, sebagaimana tersirat dalam hadits berikut ini.
اِنَّ اللهَ حَرّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوقَ اَلْأُ مَّهَا تِ
“Sesungguhnya Allah mengharamkan kalian berbuat durhaka kepada ibu-ibu kalian” (Bukhari 1407).
Berbicara tentang durhaka kepada Ibu, kita teringat kepada “Kisah Malin Kundang”. Anak seorang janda bernama Mande Rubayah yang hidup di pesisir pantai Air Manis Sumatera Barat. Sebuah cerita rakyat yang terkenal dari Sumatera Barat.
Hanya karena gengsi dan malu sama isterinya yang keturunan bangsawan, dia tega tidak mau mengakui sosok perempuan tua renta dan lusuh yang tiada lain adalah ibu kandungnya sendiri, sebagai ibunya. Padahal sang ibu telah begitu lama merindukan kedatangan Malin Kundang yang lama sekali tidak kunjung pulang sejak pamit mau merantau untuk mengadu nasib dengan iringan do’a tulus sang Ibu.
Ketika Malin Kundang dan istrinya pulang dan turun dari kapalnya dengan pakaian penuh kemewahan, Mande Rubayah menyambut kedatangan Malin Kundang dengan penuh kerinduan dan kebahagiaan.
Ketika sang Ibu dengan tangisan lirih mau merangkulnya untuk meyakinkan bahwa ia adalah ibunya, Malin Kundang tega mendorongnya disertai umpatan kasar, sampai sang Ibu jatuh tersungkur. Hanya karena malu dan gengsi terhadap istrinya.
Betapa pilu dan sakit hati sang ibu, sampai-sampai dalam kepiluannya ia berdo’a: “Ya Tuhan, kalau memang dia bukan anakku, aku maafkan perbuatannya tadi. Tapi kalau dia benar anakku, aku mohon keadilanmu ya Tuhan”. Selesai berdo’a Mande Rubayah-pun jatuh pingsan.
Tuhan-pun menjawab do’a Mande Rubayah. Tak berselang lama, turun hujan badai yang menghancurkan kapal yang dinaiki Malin Kundang. Keesokan harinya, dipinggir pantai tampak sebongkah batu yang menyerupai orang sedang bersujud menyesali dosanya ingin bertaubat. Menurut cerita, konon itulah tubuh Malin Kundang anak durhaka yang dikutuk ibunya.
Sebuah cerita rakyat yang sangat baik untuk didongengkan kepada anak-anak dalam rangka menanamkan akhlak agar menjauhkan diri dari durhaka kepada Ibu.
4.Harus Dibahagiakan
Diutamakannya Ibu (orang tua) dalam Islam, ditunjukkan dalam bentuk adanya kewajiban anak untuk membahagiakannya, sebagaimana tersirat dalam firman Allah SWT berikut ini.
لَاتُضَارٌّ وَلِدَهُ بِوَلِدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ
“Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya”. (QS:Al-Baqarah:233).
Demikian pula dalam sebuah hadits diriwayatkan ada seseorang yang sudah berbai’at kepada Rasulullah akan ikut berhijrah. Oleh Rasulullaah disuruh kembali kepada kedua orangtuanya. Mengapa? Karena beliau tahu kalau kedua orangtuanya sedih ditinggal hijrah oleh anaknya tersebut.
جَاءَ رَجُلٌ اِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: جِئْتُ اَبَا يِعْكَ عَلَى الْهِجْرَةِ وَتَرَكْتُ اَبَوَىَّ يَبْكِيَانِ, فَقَالَ: اِرْجِعْ فَأَ ضْحِكَهُمَا كَمَا اَبْكَيْتَهُمَا
“Seseorang datang kepada Rasulullah dan berkata: “Aku akan berbai’at kepadamu untuk berhijrah dan aku tinggalkan kedua orangtuaku dalam keadaan menangis”. Rasulullah bersabda: “Kembalilah kepada kedua orangtuamu dan buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis” (HR. Abu Dawud 2528).
Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya membahagiakan orang tua bagi seorang anak.
5.Tida Boleh Diperlakukan Kasar
Betapa dimuliakannya kedudukan Ibu dalam Islam, sampai-sampai Allah SWT melarang adanya perlakuan kasar terhadapnya. Bahkan Allah melarang kasar walaupun hanya sekedar ucapan “ah!” atau bentakan. Sebaliknya, Allaah mengingatkan agar seorang anak hendaknya senantiasa berucap dan bersikap kepadanya, ucapan dan sikap yang memuliakan. Kita simak firman Allah be rikut ini.
اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَا اَوْكِلَاهُمَ فَلَا تَقُلْ لَهُمَا اُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
“Jjika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (QS:Al-Israa:23).
6.Wajib Ditaati
Hak-hak istimewa lain yang diberikan kepada Ibu dalam ajaran Islam, adalah anak wajib taat kepadanya. Sikap ini sebagai bagian dari sikap hidup senantiasa berbuat baik kepada kedua orang tua sebagaimana diperintahkan oleh Allaah SWT dalam firman-Nya.
وَوَصَّيْنَا الِانْسَانَ بِوَالِدَيْهِ اِحْسَانَ حَمَلَتْهُ اُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula)”. (QS:Al Ahqaf:15).
Dalam firman-Nya ini, tersirat bahwa Allaah SWT, memberi penekanan tentang bagaimana peran penuh susah payahnya seorang Ibu dikaitkan dengan melahirnkan seorang anak.
Apa yang diingatkan oleh Allaah ini, kiranya harus kita maknai sebagai alasan mendasar mengapa Allaah SWT memerintahkan seorang anak harus senantiasa berbuat baik kepada Ibu. Salasatunya dalam bentuk wajib mentaatinya dalam hal kebaikan.
Hanya saja, ketaatan tersebut menjadi tidak wajib bahkan anak harus menolaknya, ketika orang tua (termasuk Ibu) memerintahkan atau mengajak kepada kesesatan atau kejelekan. Namun demikian, anak tetap harus hormat kepadanya dan memperlakukannya dengan baik.
وَاِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى اَنْ تُشْرِكَ بِى مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُتِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوفًا
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik”. (QS:Luqman:15)
7.Do’anya Mustajab
Keutamaan lain yang diberikan kepada Ibu menurut ajaran Islam, adalah do’anya mustajab, sebagaimana tersirat dalam sabda Rasulullah berikut ini.
ثَلَاثُ دَعْوَاتِ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيْهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَا فِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
“Tiga do’a mustajab yang tidak diragukan lagi, yaitu do’a orang tua, do’a orang yang sedan bepergian (safar), dan doa orang yang dizalimi”. (HR. Abu Daud 1536).
8.Ridha Allah Tergantung Ridhanya
Inilah keutamaan lain dari seorang Ibu, dalam pandangan Islam. Sampai-sampai ridha Allaah SWT tergantung pada ridha nya. Demikian pula sebaliknya, murka Allaah SWT tergantung kemurkaannya. Kita simak sabda Rasulullaah s.a.w berikut ini.
رِضَااللهِ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ, وَسَخَطُ اللهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدَيْنِ
“Ridha Allah tergantung ridha kedua orang tuanya, dan murka Allah tergantung murka kedua orang tuanya”. (HR At-Tirmidzi, Ath-Thabrani, Al-Hakim).
Sabda Rasulullah tersebut mengingatkan, bahwa seorang anak harus berusaha agar kehidupannya berada dalam keridhaan orangtuanya. Jauhkan diri dari segala perilaku, yang memancing kemarahan atau ketidak ridhaan orang tua.
Demikian renungan kita kali ini, semoga ada manfaatnya.
Wa Allaahu A’lamu bishshawab.